Oct 14, 2015 | By: Rainyday

Be The 'Judge' and Win Trip to Shanghai!!

Hola fellas!!


Masih ingat kan tentang even terhits yang baru aja diposting di blog ini? Pasti masih ingat lah ya, Fashion Crowd Challenge 2015 mah emang dahsyat banget acaranya! Nah, kalo kemaren waktunya buat para desainer fashion Indonesia submit ide-ide kreatif mereka, sekarang waktunya buat kita-kita menilai hasil karya mereka dengan menjadi Judge!


Jadi Judge? Emang bisa?



Ini nih yang unik dan menarik banget dari Fashion Crowd Challenge 2015. Seperti yang sudah diulas di postingan sebelumnya, even ini memberi peluang bagi siapapun di manapun  berada untuk ikut berpartisipasi. Gak tanggung-tanggung, hadiahnya bikin kamu mikir dua kali kalo ini beneran mimpi atau enggak. Fantastic banget pokoknya!


Nah, bagi kamu yang ketinggalan kesempatan untuk submit karya terbaikmu nggak perlu kecewa, karena masih ada kesempatan untuk memenangkan award FCC 2015 dengan menjadi juri alias judge. Siapapun bisa menjadi juri, karena sistem penilaian FCC 2015 menggunakan CES atau Crowd Evaluator System.



So, kali ini jangan ketinggalan kesempatan lagi ya. Karena periode untuk menjadi juri dan memberikan penilaian serta voting desainer hanya dibuka dari tanggal 08 Oktober 2015 sampai dengan 15 Oktober 2015!


Oct 7, 2015 | By: Rainyday

Fashion Crowd Challenge 2015, Everyone Can Join It!

"Don't make fashion own you, but you decide what you are and what you want to express" - Gianni Versace



Sejatinya, fashion merupakan hal yang sangat melekat pada diri manusia. Siapapun itu pasti memiliki ciri khas masing-masing yang ditunjukkan melalui fashion yang dikenakannya. Fashion bisa dibilang sebagai bahasa yang lebih instan. Artinya, melalui fashion seseorang dapat menunjukkan identitas diri meraka tanpa harus banyak bicara.

Tapi sayangnya, fashion kerap disalahartikan. Banyak yang menganggap bahwa fashion identik dengan sesuatu yang 'mahal' dan 'mewah' yang hanya berlaku untuk segelintir orang saja. Padahal, setiap orang sebenarnya bisa menciptakan fashion mereka masing-masing karena....


Fashion is not something that exists in dresses only.
Fashion is in the sky, in the street
Fashion has to do with ideas, the way we live,
what's happening. - Coco Chanel


See? Semua orang bisa menciptakan fashionnya sendiri kan?
Nah, ngomong-ngomong tentang fashion nih, saya punya kabar baik untuk seluruh pecinta dan penikmat fashion di seluruh Indonesia.


Fashion Crowd Challenge 2015 is waiting for you!


May 19, 2015 | By: Rainyday

I Love You, Honey...

Hai gals... Apa yang bakal kalian lakukan ketika mulai suka, tertarik, atau bahkan jatuh cinta sama seseorang? 

Hmm... Let me guess!

Pasti hal pertama yang dilakukan adalah langsung ngepoin medsos si doi kan? Mendadak langsung punya keahlian yang ngalah-ngalahin agen FBI buat mengulik berbagai informasi seputar doi yang udah sukses bikin kamu jatuh hati. Bener gak tuh? Hehe. Gimana saya bisa tau? Ehm, sebenernya sih saya juga termasuk salah satunya, hehe. Saya lagi jatuh cinta nih. Makanya sekarang ini saya juga lagi getol-getolnya ngepoin sesuatu.


Sesuatu?? 


Iya, sesuatu. Soalnya saya memang lagi jatuh cinta sama sesuatu. Bukan seseorang lho ya. Soalnya jatuh cinta sama seseorang udah mainstream sih, hehe (padahal sebenernya emang uda putus asa karena kelamaan jomblo T_T). 


Nah, gals. Yuk langsung aja kenalan sama 'sesuatu' yang udah bikin saya jatuh hati. Namanya Honey. Dan kali ini saya akan membeberkan semuuuuua rahasia tentang Honey, yang tentunya akan membuat teman-teman semua, gak cuma saya saja, bakalan jatuh hati sama si Honey. Let's see!







Apr 28, 2015 | By: Rainyday

Virus Free Air, Solusi Polusi Negeri Kaya Inovasi

Bagi para penikmat sinetron Indonesia, kalian tentunya tahu sinetron Si Doel Anak Sekolahan kan? Apalagi sinetron Tujuh Manusia Harimau ya, yang saat ini ditonton jutaan masyarakat Indonesia. Nah, jika kalian merasa akrab dengan kedua sinetron ini sudah dipastikan kalian pun mengenali sosok yang memerankan tokoh utamanya. Siapa mereka? Yap! Benar sekali. Pemeran utama dalam kedua sinetron tadi adalah Rano Karno dan Samuel Zylgwyn. Lantas, ada apa dengan kedua orang ini? Baiklah, sebelum teman-teman membaca lebih jauh, akan saya pastikan terlebih dahulu bahwa tulisan ini bukanlah artikel gosip yang akan membahas tentang seluk-beluk kedua artis tadi. Eits, tunggu dulu. Teman-teman tak perlu kecewa, karena terinspirasi dari kedua artis ini saya justru menemukan informasi mengenai sebuah teknologi canggih dari negeri kaya inovasi. Penasaran? Beginilah ceritanya....


Sumber foto : john.do


SolabCool, Inovasi Negeri Belanda yang Benar-Benar Cool!


          Teman-teman, pernah nggak sih ketika siang hari kalian merasakan panas yang luar biasa? Panas yang sungguh menyengat hingga rasanya kalian ingin melepas pakaian atau bahkan segera terjun ke kolam terdekat atau membuat kalian ingin segera menenggak sebotol minuman dingin bersoda? Panas yang sungguh terik yang membuat mood kalian berubah seketika bahkan menimbulkan nyeri di kepala? Panas yang sungguh membakar hingga membuat kalian ingin segera mengakhiri kegiatan apapun di luar dan cepat-cepat kembali ke rumah? Apapun jenis panasnya saya yakin kita semua pasti pernah merasakannya dalam kondisi yang berbeda-beda. Karena sebagai penduduk negara tropis, ini adalah hal yang sangat lumrah. Namun, apakah hal yang lumrah ini lantas membuat kita tak perlu menciptakan hal-hal inovatif di sekitar kita? Hmm...

Source : bchydro.com

Apr 16, 2015 | By: Rainyday

Hyperthymesiac's Undelivered Letter

Untuk teman kecil sekaligus sepupuku, 
Yang tak lama lagi akan memulai lembaran baru bersama dia yang telah berhasil menemukanmu sebagai penyempurna tulang rusuknya...

Ketika mendengar berita ini dari ibu, yang kulakukan pertama kali adalah diam.
Diam untuk sejenak, hingga tak sadar diamku justru mendesak sistem limbik untuk mengeluarkan beberapa tetes lakrimal.
Bukan, bukannya sedih. Aku bahagia untukmu. Sungguh bahagia.
Saking bahagianya aku harus bersembunyi di balik pintu kamar agar ibuku tak tahu bahwa mataku mulai memerah. Kau tau kan, pantang bagiku untuk terlihat seperti itu di depan ibu.

Apr 12, 2015 | By: Rainyday

Google, I'm Into You!

Hi fellas, do you love Google? 
If you ask me, I'll certainly answer you with a BIG YES. 
If you ask me why? Hmm... let me tell you my journey. Then you'll understand why I love everything's about Google that much.
(But, it's important to be noted that I ain't kinda a geek. hehe)



My journey to find you


Pertama kali dikenalin sama komputer itu waktu saya lagi duduk di kelas 4 SD. Eh belum dikenalin juga ding, ceritanya dikenalin dulu sama mesin tik. Nah, waktu itu saya suka banget sama benda-benda yang punya tuts-tuts, kayak piano sama mesin tik. 

Khusus mesin tik, entah kenapa saya suka sekali melihat orang-orang mengetuk-ngetukkan jari mereka ke tuts-tuts warna hitam dengan rentetan bunyi khasnya yang kemudian diakhiri dengan bunyi "ting" itu. Saya sendiri tidak punya mesin tik, makanya tiap pulang sekolah (waktu SD) saya selalu menghampiri ayah saya yang bekerja sebagai guru SMP. Bukan untuk menemui ayah saya, yang saya tuju justru kantor TU nya. Di sana setiap jam istirahat saya selalu mencoba menggunakan mesin tik sesuka hati saya, ya.. meskipun cuma mesin tik rusak sih sebenarnya. 

Entah apa yang ada di pikiran saya saat itu, saya minta pada orang tua saya untuk didaftarkan ke kursus mengetik, di mana saat itu teman-teman saya kebanyakan justru tidak peduli dengan les semacam ini. Mereka lebih memilih les bahasa Inggris, les MTK, karate, drumband, dan sebagainya. Setidaknya mereka mengikuti les dengan orang-orang seumuran mereka. Sedangkan saya? Baru berusia 9 tahun di kursus mengetik ini membuat saya otomatis menjadi manusia termuda jika dibandingkan dengan peserta les lainnya yang berusia 17 tahun ke atas.

Hampir setiap sore saya selalu pulang sendiri dengan berjalan kaki sejauh 2 km sehabis kursus mengetik. Kadang-kadang diantar dan dijemput kalau orang tua saya sedang tidak sibuk. Biasanya Ibu saya selalu sibuk mengurusi adik laki-laki saya yang masih kecil, dan ayah saya setiap sore harus bekerja sebagai nelayan. Saya, yang punya keinginan segudang ini tidak bisa dengan egoisnya minta ini itu pada orang tua saya. Jadi, saya selalu berusaha sendiri dan mandiri. Ikut lomba sana-sini, dan melenyapkan rasa takut saya untuk pergi sendiri ke sana kemari. 

Mungkin orang tua saya bisa melihat kegigihan di mata saya. Atau, mungkin juga sebenarnya orang tua saya kasihan melihat saya yang kurus, kecil, dan dekil ini harus pulang pergi sejauh 4 km demi kursus mengetik. Takut-takut saya diculik (padahal sepertinya memang tak ada yang berminat menculik saya), jadinya orang tua saya membelikan saya komputer di rumah. Hmm...

Apr 8, 2015 | By: Rainyday

Sleepwalker

"Kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu gelap?" - Nishimura Kazuto

Sepenggal kalimat di atas adalah kalimat favorit saya ketika mengenal novel-novel karya penulis terkenal nan bersahaja, Ilana Tan. Saya jatuh cinta pada karya-karyanya sejak SMA dan sudah menghatamkan tetralogi novelnya. Unik, menarik, dan selalu membuat dada saya berdebar ketika menyelami setiap untaian kata yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh yang ia ciptakan. Entah bagaimana Ilana Tan ini mendesain karakter tokoh pria di novelnya, herannya mereka-mereka yang tercipta dalam imajinasi ini selalu membuat saya ingin bergegas mengambil wudhu, tahajud, dan kemudian bersimpuh memohon untuk segera diturunkan jodoh seperti yang dikisahkan di dalam novel-novelnya Ilana Tan.

Di antara keempat novel tetraloginya Ilana Tan ini, yang menjadi novel favorit saya adalah Winter in Tokyo, dengan tokoh pria utama bernama Nishimura Kazuto. Saking tergila-gilanya dengan sosok Kazuto, dulunya saya bahkan sempat mencari-cari pemilik akun FB dengan nama Nishimura Kazuto. Sebenarnya... saya sepenuhnya sadar kok bahwa pemilik akun itu bukanlah seperti sosok Kazuto yang diceritakan di dalam novel. Tapi, entah mengapa, saya yang delusionis ini selalu beranggapan tokoh-tokoh imajiner seperti itu sejatinya bisa ditemukan di dunia nyata. Pemahaman saya yang seperti itu malah semakin didukung dengan kenyataan bahwa permintaan pertemanan di FB saya diterima! Kehebohan dan kealayan saya pun semakin memuncak ketika akhirnya kami saling bertegur sapa melalui dunia maya dan bertukar cerita di inbox FB.  Saya, yang saat itu masih duduk di kelas 2 SMA dan tinggal di asrama putri, sontak membuat geger satu asrama karena selalu heboh ketika mendapatkan pesan balasan dari Kazuto dunia nyata.

Mar 26, 2015 | By: Rainyday

Who am I?

Ada hal-hal yang bisa dipelajari, bahkan dari orang mati. ― Ser Waymar Royce

Kusandarkan kepalaku ke tumpukan batu Ordovisium dan membiarkan tubuhku tergeletak di atas rerumputan hijau. Berada di ketinggian hampir 2.000 kaki membuatku merasa tenang. Setidaknya di sini hanya ada aku dan pikiranku, juga teriakan burung camar yang terdengar seperti mengadu. Angin mulai berhembus perlahan, membuat beberapa pohon kering dan rerumputan ikut bergoyang. Kau tahu, ini pertanda bahwa alam sedang ingin bercengkrama denganmu.

Inilah yang disebut Cadair Idris, gunung yang terletak di sebelah selatan Snowdonia. Aku tak ingin beranjak dari tempat ini sekarang. Gunung yang berdiri kokoh di Gwynedd, Wales, ini mampu membius rasa sakitku. Mengerti maksudku, kan? Tak ada penderitaan fisik yang lebih menyakitkan dibandingkan dengan sakit yang mendiami hatimu. Kau yang pernah merasakannya mungkin akan berpendapat sama. Tapi kujamin, di sini kau bisa temukan penawarnya. Entahlah, aku tak yakin apa ini ada unsur mistis atau tidak. Namun, satu hal yang pasti akan kau rasakan. Kau akan mengerti apa itu kedamaian.

Berdirilah di Penygadair, puncak Cadair Idris. Kau akan menyaksikan langit biru dan gumpalan awan putihnya seperti sedang memelukmu. Matamu akan terpaku menyapu pemandangan dinding batuan Rhyolite Craig Cau yang mencuat dari bawah, mengitari danau biru Llyn Gadair yang dramatis. Terasa sempurna ketika kau menyadari terbentang rerumputan hijau yang sedang menyapamu. Dan―oh! Berjalanlah ke arah selatan. Dari sana kau bisa melihat Mawddach Estuary, pantai di Barmouth, dan juga Cregennen Lakes. Andai saja saat ini Mom bersamaku, dia pasti akan―ah, sudahlah.

Mar 17, 2015 | By: Rainyday

Current Status : Lagi PDKT

Menginjak usia 20 tahun rasanya gak bakalan seru ya kalo gak ada bumbu-bumbu percintaan di sela-sela aktivitas sehari-hari. Eh tunggu, tapi sebenarnya memang gak perlu nunggu sampe usia 20 tahun juga sih ya, yang namanya cinta uda pasti bakal menghampiri setiap insan di muka bumi ini. Siapapun, di manapun, kapanpun, mau usia berapapun. Semua pasti merasakan apa yang namanya cinta..

Nah, tapi nih... cinta itu banyak banget definisinya, begitu pula cara orang-orang mengartikan maksud dari sebuah kata 'cinta' dengan banyak jenis dan genrenya. Masing-masing tentunya punya teori sendiri bagaimana untuk mengapresiasikan cinta. Dimulai dengan cinta pada diri sendiri, cinta pada yang telah menciptakan kita, cinta pada orang tua, cinta pada keluarga, cinta pada teman  (agak rancu ya?), cinta pada lawan jenis (atau sesama jenis ._.), cinta pada hewan peliharaan, cinta pada benda kesayangan, atau bahkan cinta pada makanan (curhat). Kita boleh mencintai siapa saja dan apa saja, dan untungnya tak ada undang-undang yang melarang untuk jatuh cinta pada siapapun atau apapun itu yang bisa membuat kita jatuh cinta. Asal... semua itu tidak berlebihan.




Feb 19, 2015 | By: Rainyday

Are You Kidding Me?? Having Winter Vacation in Japan is Just Like...

Semangat pagi teman-teman semua!! 


Hari ini saya bersemangat sekali untuk mengawali pagi dengan langsung duduk manis di depan meja belajar saya, menjamah kembali laptop yang tergeletak di atas meja, dan membiarkan jari-jari saya melompat-lompat di keyboard menyusun serangkaian kata yang sejak malam tadi sudah menggunung di kepala ini. Benar sekali! Semalaman saya tidak bisa tidur. Otak saya sepertinya bekerja lebih berat dari biasanya, sehingga membuat saya harus jungkir balik di tempat tidur memikirkan kata-kata apa yang akan saya tuangkan di postingan blog saya saking bahagianya menemukan kompetisi blog My Ideal Japanese Winter Vacation ini. 


Bagaimana pula saya tidak berteriak lebay ketika menemukan kompetisi ini (bahkan belum tentu dinyatakan sebagai pemenang pun saya sudah histeris), di mana hari-hari saya selama liburan ini saya habiskan dengan mempelajari tata bahasa Jepang serta kebudayaannya yang menawan, bereksperimen membuat miso ramen seharian, duduk di depan laptop sepanjang hari berlatih mengucapkan kosa kata bahasa Jepang, membuat bucket list tempat-tempat yang harus saya kunjungi di Jepang , hingga sampai ke alam mimpi pun yang melekat di otak saya hanya Jepang. Bahkan saking nyatanya mimpi saya itu, ketika bangun tidur pun saya sampai merasa menggigil seolah sedang menggenggam gumpalan salju! Padahal nyatanya.... rasa dingin itu karena tangan saya yang entah kenapa, tiba-tiba sudah menempel di depan kipas angin begitu saja.... 



Jan 3, 2015 | By: Rainyday

Ramenicha for Rameniacs

こんばんは みんなさん !!
(Konbanwa minna-san!!) 

Selamat tahun baru 2015 untuk teman-teman di manapun berada...

Di kalender saya hari ini sudah memasuki hari ketiga bulan Januari. Tapi mungkin kalender yang saya gunakan sedikit berbeda dengan kalender yang menjadi acuan orang-orang yang hingga kini masih saja menyalakan petasan dengan tidak berperasaan. Sedikit sarkas, tapi jujur saya merasa kesal karena mereka terus menyalakan petasan tanpa memikirkan suasana sekitar. Gak malem, gak siang, bahkan pagi-pagi buta juga saya masih saja mendengar suara petasan bergema. Rasanya sungguh seperti sedang berada di kawasan berkonflik. 

Gara-gara petasan tahun baru juga saya jadi sering kaget. Pas wudhu kaget. Pas tidur kaget. Pas makan kaget. Entahlah siapa itu yang senang menghambur-hamburkan uang dengan bermain petasan. Yang jelas itu sangat-sangat mengganggu terutama di waktu-waktu istirahat. Untuk ukuran saya yang sudah dewasa juga saya masih sering terkejut dengan suara petasan yang membahana, apalagi jika didengar oleh anak-anak atau bahkan bayi yang sedang istirahat. Tentu itu akan sangat mengganggu kesehatan dan kinerja jantung mereka yang masih lemah. Boleh-boleh saja bermain petasan, tapi tetap yang sewajarnya. Detik-detik tahun baru juga sudah lewat, dan alangkah baiknya kalau kita menyambut tahun baru ini justru dengan merenung dan semakin memperbaiki diri. Bukan malah hura-hura dengan tidak mempedulikan sesama. Banyak orang-orang yang bahkan tak sadar tahun telah berganti karena terlalu sedih memikirkan anggota keluarga mereka yang entah di mana akibat kecelakaan Air Asia. Tak hanya itu, berbagai bencana seperti tanah longsor di Banjarnegara, puting beliung di Barru, letusan Gunung Sinabung, semuanya telah merenggut kebahagiaan saudara-saudara kita yang ada di luar sana. Tak seharusnya menyambut tahun baru dengan terlalu larut dalam euforia. Toh, sejatinya hari-hari tetap sama saja. Yang membedakan adalah bagaimana semakin hari sifat dan sikap kita berubah menjadi semakin dewasa.

Dec 26, 2014 | By: Rainyday

Fortuna dies Natalis, Mam!!

Imam, adik laki-laki saya satu-satunya, hari ini genap berusia 16 tahun. Saya belum sempat mengirimkan kado untuknya, pun hingga tulisan ini selesai saya masih belum mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Begitulah, kami memang bukan tipikal keluarga yang so sweet, terutama saya dan Imam. Kami jarang sekali ber-so-sweet-so-sweet-ria dengan saling melemparkan ucapan 'happy birthday' ketika salah satu di antara kami ulang tahun, 'semoga cepat sembuh' ketika ada yang sedang sakit, atau 'anak pintar!' ketika kami memperoleh nilai yang baik dalam ujian. Kami memang jarang bermain kata-kata untuk mengungkapkan sesuatu. Kami lebih suka melakukan sesuatu dibandingkan mengucapkan sesuatu. 

Dan makhluk yang palik cuek di keluarga kami tentu saja saya dan Imam. Untungnya Salwa, adik bungsu saya yang paling cerewet sedunia, tidak mengikuti jejak kami berdua. Dia satu-satunya yang paling peduli, paling manis, paling baik, paling cerewet, paling pengertian, dan tentunya paling mau disuruh-suruh di rumah. Ketika saya sedang sakit, Salwa selalu datang ke kamar dan tiduran di sebelah saya. Terkesan sok dewasa, dia menanyai apakah saya sudah sehat dan mau dibawakan makanan apa. Manis sekali. Berbeda posisinya ketika Salwa yang sedang sakit. Justru kami malah datang ke kamarnya dan satu persatu menciumi pipinya yang menggemaskan hingga dia berteriak, hehe (kakak macam apa -_-). Di antara kami bertiga saya rasa justru Salwa lah yang lebih pantas jadi kakak pertama (-.\). Sebenarnya masih banyak cerita lucu tentang adik mungil saya, Salwa. Tapi berhubung hari ini adalah ulang tahun Imam, saya mau bercerita banyak tentang adik laki-laki saya satu ini. 

Dec 24, 2014 | By: Rainyday

Babbling to Myself

Malam selalu jadi waktu yang tepat untuk meluapkan pikiran-pikiran ke dalam sebuah tulisan. Sama seperti malam-malam sebelumnya, malam ini pun saya masih setia duduk di dekat jendela ditemani alunan musik Jepang dan sebungkus biskuit dengan custard cream. Terpaku di depan layar laptop sembari sesekali menatap langit malam yang tenang, tanpa awan, tanpa bintang. 

Kemarin adalah hari terakhir saya mengikuti perkuliahan untuk semester lima. Dan ini adalah hari pertama minggu tenang sebelum memasuki ujian akhir semester. Tak heran suasana di kosan terasa lengang. Beberapa mungkin sedang pulang ke rumah atau memilih untuk berlibur ke kota lain karena besok merupakan hari Natal. Biasanya akan terdengar hiruk pikuk dari koridor tengah, entah itu suara TV yang dinyalakan atau suara para penghuni kos yang sedang bergosip ria. Tapi sekarang, yang terdengar hanyalah bunyi kipas angin di kamar yang memang tak pernah saya matikan. Suasana yang menenangkan dan menyenangkan. Malam ini juga terasa sedikit lembap. Hujan yang turun sepanjang sore tadi menyisakan aroma petrichor yang selalu saya sukai. Nyaris sempurna. Sayangnya tak ada latte macchiato yang menemani saya menghabiskan malam yang tenang ini...

Oya, sebenarnya tak ada yang ingin saya ceritakan. Hanya saja, saya merasa senang jika bisa memainkan jari-jari di antara tuts keyboard laptop saya. Apalagi jika hasil ketikan-ketikan saya bisa menjadi sesuatu yang lebih berarti dari sekedar kalimat-kalimat chatting atau status-status di media sosial. Karena itu saya memilih untuk kembali menulis di blog, meskipun tak ada kejadian spesial yang saya alami hari ini. 

Dec 22, 2014 | By: Rainyday

The Painkiller

Pagi tadi sebelum berangkat kuliah saya masih menyempatkan diri berkutat dengan cermin. Berusaha mencari mimik wajah yang tepat dan memilih ekspresi yang pas agar terkesan lebih siap menghadapi perkuliahan hari ini. Tak ada maksud untuk terlihat lebih menarik, hanya saja saya perlu waktu sedikit lama untuk mengumpulkan puing-puing semangat yang akhir-akhir ini semakin surut saja. Sambil menunggu teman sekelas yang juga satu kos dengan saya selesai dengan panggilan alamnya, saya memilih untuk duduk termenung di dekat balkon. Entahlah, saya tak tahu sebenarnya apa yang selama ini saya risaukan. Hanya saja, saya merasa ada yang mengganjal. Ada sesuatu yang tidak pas dan tidak sesuai pada posisinya. Tapi di mana letaknya hingga saat ini saya pun tak tahu pastinya. 

Sembari merenung otak saya berputar ke arah sebaliknya, menuju beberapa bulan yang lalu ketika awal-awal saya baru memasuki semester lima. Apa yang salah dengan semester ini saya pun tak tahu apa. Tapi saya merasa ada sesuatu yang tak beres yang perlahan mulai mengganggu kinerja belajar saya. Awalnya saya berpikir ini hanya hal sepele seputar masalah jetlag karena saya baru saja menikmati masa-masa kuliah yang menyenangkan selama di Korea. Namun, ternyata ini tak berhenti sampai disitu saja. Meskipun saya merasa sudah menjalankan perkuliahan sewajarnya, dengan usaha yang saya rasa sama saja intensitasnya untuk semester-semester sebelumnya, tetapi justru berbanding terbalik dengan hasil yang saya terima...
Dec 16, 2014 | By: Rainyday

Unspoken Confession

Mungkin ini terdengar seperti pernyataan cinta  kepada sang pujaan hati, atau ungkapan rindu yang mendalam dari seorang wanita kepada pria. Tapi, percayalah. Tulisan ini bukan hanya sekedar rangkaian kata-kata saja, jauh di balik penggalan penggalan kalimat yang saling terhubung dengan titik dan koma, terdapat makna yang benar-benar tak bisa diungkapkan oleh frasa. Dua puluh tahun sudah kata-kata yang harusnya diucapkan ini masih tetap bersembunyi di bilik hati...

Dan malam ini... meskipun aku tak pernah mengatakannya langsung... 
Ingin kusampaikan bahwa aku sangat merindukanmu, Pak...
Sudah lama ingin mengucapkan ini, tapi tak pernah bisa
Karena selama ini anak gadismu tak pernah bisa bicara

Banyak kata yang harusnya tercurah, tapi hanya bergema di dalam hati saja...

Meskipun kebersamaan selama di rumah hanya dihabiskan dengan beberapa kata saja dan selebihnya kita seperti berada di dunia yang berbeda, tapi aku selalu memperhatikan kepergianmu dengan jaket dan topi lusuh di setiap senja dari balik jendela. Berbisik kecil mendoakanmu semoga selamat dan selalu dilindungi Allah...
Meskipun kau tak pernah bicara atau memintaku untuk bisa, aku berjanji untuk membanggakanmu Pak.. 
Meskipun waktu yang kita lalui mungkin bisa dihitung jari, tapi setiap detik itu terasa sangat berarti.
Meskipun mungkin kau tak menyadari, dibalik sikapku yang seolah tak peduli, kaulah yang justru selalu jadi motivasi...

Pak... semoga selalu sehat..
Jauhnya jarak yang memisahkan membuatku hanya bisa mendoakanmu dari jauh
Tak banyak yang bisa kulakukan untuk melindungimu, saat ini kekuatan doalah yang paling ampuh. 

Mungkin kau sudah lupa. Tapi hingga usiaku genap dua puluh, memori itu masih terus tumbuh Pak.. ketika orang kaya dengan perut besarnya itu menuduhmu yang salah menabrakkan motor ke mobilnya. Aku yang waktu itu duduk di belakang tak bisa berbuat apa-apa selain melihat wajah lelahmu yang berusaha tersenyum meminta maaf. Pak, andai saat itu aku tak terluka sudah kuhajar pria itu sebisaku. Tak akan kubiarkan pria itu menghinamu... 

Dec 12, 2014 | By: Rainyday

Perfect Life in a Dreamland

Ketika tahu secara pasti bahwa saya akan berangkat ke luar negeri untuk pertama kali, apalagi ke negara yang selalu saya impikan tanpa mengeluarkan biaya dari kocek sendiri, rasanya itu seperti ingin melompat dari atas menara tertinggi dan memantul-mantul di atas gundukan awan-awan putih! Kemudian meluncur dengan perosotan pelangi, menyebrangi lautan warna-warni, menari-nari di tengah padang mawar tanpa duri, dan segera berlari meminjam toa masjid untuk memberikan pengumuman ke seluruh penghuni bumi bahwa pada akhirnya saya bisa pergi ke negeri Kimchi!!!

Andai saya bisa melakukan hal gila itu demi menggambarkan rasa bahagia dan terharu saya ketika terpilih menjadi delegasi Universitas Diponegoro untuk mengikuti program pertukaran pelajar di Kangwon National University selama satu semester, yang bahkan dibiayai penuh dari urusan tiket pulang-pergi, biaya hidup, hingga asuransi. Namun, realitanya  saya hanya bisa mengembangkan senyum dua jari dan bersyukur tanpa henti ketika tahu bahwa mimpi saya sejak sepuluh tahun yang lalu untuk terbang ke Korea pada akhirnya bisa saya raih.

When You Need to Cry, but You Can't




Mendung dan hujan...

Keduanya memang menjadi perpaduan sempurna sebagai obat depresan yang tak bisa menghentikanku untuk berhalusinasi. Hanya gelap yang mulai menyelimuti cakrawala dan rinai hujan yang mulai turun dari mega yang mampu membuat otak ini berhenti memikirkan dunia...

Bolehkan aku mengucapkan kata 'lelah'?
Tak ada kata lain yang bisa kulontarkan ketika semuanya sudah terlalu sering menggerus tepi-tepi syarafku. Semua yang kudengar terlalu palsu. Atau setidaknya, bisakah sedikit saja untuk berpura-pura bisu? Agar aku tak tahu... atau biarkan aku tak melihat apapun itu.

Lelah...

Aku tak tahu harus mulai dari mana, harus berbicara atau diam saja, harus bergerak atau diam di tempat, harus marah atau berpura-pura tersenyum bahagia. Aku bingung di dunia apa sebenarnya aku berada. Bahkan aku pun tak tahu diriku ini apa... Aku lelah menjadi orang lain...

Hanya ketika gelap dan hujan tiba...
Aku merasa itulah aku apa adanya...
Nov 8, 2014 | By: Rainyday

November, be nice to me!



Udah 4 bulan gue balik dari Korea dan menjalani hari-hari gue seperti biasa di Semarang. Kuliah, sebagai mahasiswi semester 5. Sayangnya, selama 4 bulan itu pula gue nggak ngegubris isi blog ini. Bukan karena gak ada sesuatu hal buat diceritain, tapi terlebih karena gue lebih sibuk bercerita ke diri sendiri. Entah apa yang bikin gue skeptis dan terkesan mengalami gejala jet-lag yang berkepanjangan sehingga gue sibuk berkutat dengan diri gue sendiri. Talk to myself, what should I do now?

Well... jadi ceritanya gini...



Jul 10, 2014 | By: Rainyday

Dance Musical SACHOOM

Masih di hari yang sama waktu gue nonton NANTA, selanjutnya pukul 8 malem gue langsung hijrah ke Jongno 3-ga Station exit 5 untuk  nonton Dance Musical SACHOOM di Nakwonsanga Building. Kali ini gue dapet 2 tiket gratis guys. Satu tiketnya seharga 60,000 KRW atau sekitar 600,000 rupiah. Dan dikaliin dua!! Jadinya kalo ditotalin gue dapet duit sekitar 1,200,000 rupiah dari KTO. Woaa... sayangnya gak bisa diuangkan yah :") #tetep

Untuk performances yang satu ini lebih cenderung ke dance (ya iyalah, namanya juga dance musical). Tapi gak cuma dance-dance aja. Di setiap part-nya diselipin pesan-pesan kehidupan yang mau disampaikan ke penonton tanpa lewat kata-kata.  Dan.. yang bikin gue greget itu waktu dikenalin main artists nya yang.... keren kereeeennn! :"). Gak sia-sia gue dateng ke acara begituan. Udah mirip konser K-POP malah. Beruntungnya, gue selalu milih tempat duduk paling depan, haha. Selain dance mereka yang oke punya, host-nya juga gokil abisss...Jadi, seharian ini gue ketawa puas banget. Semua acara yang diadain oleh Korea Tourism Organization keren punya!

Nah, ini gue kasih beberapa capture yang diambil ama temen gue dari Egypt waktu kita nonton show bareng. :D